Sebuah sesi interaktif unik bertajuk "Hoki & Kewirausahaan" baru-baru ini dibawakan oleh Jonathan Sudharta, Direktur Tim Nasional menggali apa yang bisa diajarkan kepada para pemain nasional sebagai peserta tentang membangun sebuah bisnis. Dikemas sebagai dialog kolaboratif di mana para peserta didorong untuk "berpikir terlebih dahulu" dan "menebak dengan suara keras," acara ini menyingkirkan istilah-istilah korporat yang rumit untuk mendefinisikan kewirausahaan secara sederhana: menciptakan nilai dengan memecahkan masalah yang nyata.
Salah satu fokus utama dari presentasi ini adalah strategi menavigasi lanskap pasar Indonesia yang unik. Pembicara menyoroti bahwa Indonesia sangat bergantung pada hubungan dan perantara, yang berarti mengetahui siapa seringkali lebih bernilai daripada sekadar tahu bagaimana. Dalam konteks ini, olahraga hoki disajikan sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar permainan; arena ini adalah "tempat yang baik dan aman" untuk membangun jaringan seumur hidup yang terdiri dari rekan satu tim, pelatih, dan orang tua tepercaya yang semuanya mengenakan lencana yang sama.
Sesi ini juga memandu para peserta dalam mengambil keputusan-keputusan awal yang krusial terkait modal dan keahlian. Peserta mempelajari realitas pendanaan: memilih antara utang (mengambil pinjaman dan membayar bunga untuk mempertahankan kepemilikan) atau ekuitas (melepaskan kepemilikan saham permanen demi modal), yang mana keduanya sangat bergantung pada upaya meraih kepercayaan. Terkait kekurangan keahlian spesifik, sarannya sangat lugas: wirausahawan harus "menjadi sumber keahlian" dengan mempelajarinya sendiri atau "membeli keahlian" dengan merekrut talenta yang tepat. Konsep-konsep ini didasarkan pada latihan penghitungan ukuran pasar di dunia nyata, menggunakan studi kasus seperti aplikasi kesehatan Halodoc dan potensi pembukaan arena es lokal yang menyasar anak-anak sekolah di kawasan BSD.
Acara ditutup dengan pengingat tegas tentang harga yang harus dibayar saat memilih jalur kewirausahaan. Meskipun menawarkan potensi imbalan tertinggi dan kendali atas kesuksesan sendiri, para pendiri harus menukarnya dengan waktu mereka—yang digambarkan sebagai komoditas paling langka yang tidak dapat dibeli kembali. Terakhir, para peserta diperingatkan agar tidak terjebak dalam arogansi akademis; pembicara menekankan bahwa gelar universitas hanyalah sebuah alat (toolkit), bukan jawaban mutlak, dan bahwa sikap rendah hati sangat penting untuk bisa terus belajar
